CYBERNEWS.COM – Kepulauan Sula, Maluku Utara – Meski Indonesia telah merdeka sejak 1945, warga Desa Wailoba, Kecamatan Mangoli Tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, merasa kemerdekaan itu belum sepenuhnya mereka rasakan. Salah satu penyebabnya adalah kondisi jalan yang masih jauh dari kata layak.
Sebuah video berdurasi 43 detik yang beredar di media sosial melalui akun Story Ternate memperlihatkan keluhan masyarakat setempat mengenai akses jalan yang mereka lalui setiap hari. Jalanan berlumpur dan sulit dilalui menjadi pemandangan yang akrab bagi warga, bahkan menjadi tantangan tersendiri bagi anak-anak yang hendak bersekolah.
“Ibu Serly Laos Gubernur Maluku Utara, tolong lia katong pung jalan, setengah mati sudah. Katong masyarakat Wailoba me setengah mati. Laut me setengah mati, darat pun setengah mati. Sudah 10 tahun lebih katong menderita, dari kabupaten tara lia, dari pusat me tara perhatikan, dari provinsi me juga tara perhatikan,” ujar salah satu warga dalam video tersebut, yang mewakili suara hati masyarakat Wailoba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Warga mengaku kecewa karena selama ini mereka merasa terabaikan oleh pemerintah di semua level baik kabupaten, provinsi, maupun pusat. Mereka menilai, akses jalan bukan sekadar kebutuhan dasar, melainkan kunci masa depan, terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
“Tong ini masyarakat Wailoba belum merdeka ini. Anak-anak pun akses sekolah me tara bisa, kesehatan me rusak abis samua. Pemerintah Kabupaten Sula selama ini tara perhatikan pa torang. Torang minta sama Ibu Serly Laos, Gubernur Maluku Utara, tolong lia perhatikan pa torang juga,” lanjut pernyataan warga.
Keluhan ini menjadi simbol nyata dari ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan sebagian masyarakat di wilayah terluar. Warga berharap jeritan mereka kali ini benar-benar sampai ke telinga para pemimpin.
Mereka tidak menuntut kemewahan,hanya ingin jalan yang layak agar anak-anak bisa sekolah tanpa harus berjibaku dengan lumpur, dan agar masyarakat bisa menikmati pelayanan kesehatan serta aktivitas ekonomi secara normal.
“Kami hanya ingin diperhatikan. Sudah terlalu lama kami merasa seperti bukan bagian dari negeri ini,” tutup salah seorang tokoh masyarakat Wailoba.





























